Jumat, 28 Januari 2011

Teks Khutbah Idul Fitri

IDUL FITRI   SEBAGAI  MOMENTUM
MEMPERKOKOH  KESATUAN DAN PERSATUAN UMAT ISLAM
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Oleh : Drs. Fahrudin, M.Ag.

الله اكبر الله اكبر الله اكبر لا اله الا الله  الله اكبر  الله اكبر ولله الحمد . الله اكبر كبير ا والحمد لله كثيرا وسبحان الله  بكرة واصيلا,  لا اله الا الله وحده صدق وعده ونصر عبده واعز جنده وهزم الاحزاب وحده, لا اله الا الله ولا نعبدالا اياه مخلصين له الدين ولو كره  الكا فرون  ولو كره المشركون  ولو كره المنا فقون. اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له  واشهد ان محمدا عبده ورسوله ارسله كا فة للناس بشيرا ونذيرا وداعيا الى الله باذنه وسراجا منير ا . اللهم صل على محمد وعلى اله واصحا به ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين  اما بعد: فيا ايها الحاضرون اتقواالله حق   تقا ته ولا تموتن الاوانتم مسلمون  قال الله تعالى فى القران الكريم :  واذ اخذ ربك من بنى ادم من ظهورهم ذريتهم واشهدهم على انفسهم  الست بربكم قالوا بلى شهدنا ان تقولوا يوم القيمة  انا كنا عن هذا غفلين  (الاعراف       )

Hadirin kaum muslimin jama’ah shalat ‘id yang berbahagia
Pada hari ini kaum muslimin di berbagai penjuru dunia berkumpul di lapangan-lapangan, di masjid-masjid untuk merayakan hari kemenangan yang disebut “Idul Fithri”. Pada hari ini kaum muslimin bersama-sama mengumandangkan takbir, tahmid dan tahlil, mengagungkan dan membesarkan asma Allah SWT, yang kemudian diiringi dengan  shalat ‘id, melakukan ruku’, sujud seraya merendahkan diri dihadapan Allah Robbul ‘Alamin. Semua itu dilakukan tiada lain sebagai tanda pengakuan atas kemahabesaran Allah dan sebagai tanda pengabdian dari seorang hamba kepada Allah yang Maha Besar dan Maha Agung yang telah menciptakan kita semua dan alam semesta ini.

Hadirin kaum muslimin rohimakumullah.
Setelah satu bulan lamanya kita melaksanakan puasa yang penuh dengan rasa iman dan karena Allah, kita telah melatih diri untuk  mengendalikan hawa nafsu, berusaha menjadi orang yang sabar, menjadi orang pemaaf, berusaha untuk tidak berbuat kemaksiatan, berusaha  untuk  selalu melakukan qiamul lail, memperbanyak dzikir, memperbanyak istighfar, memperbanyak baca Qur’an, memperbanyak sedekah dan amal-amal sholeh lainnya yang dianjurkan kepada kita, yang semua itu akan menuntun kita menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah swt, sesuai dengan tujuan akhir dari puasa itu sendiri yaitu agar kita menjadi orang-orang yang bertaqwa.
Taqwa menjadi tujuan akhir dari puasa, karena orang taqwa itulah sebagai orang yang paling mulia kedudukannya disisi Allah SWT, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:
ان اكرمكم عند الله اتقا كم
 “Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (QS.49:13).

Hari ini disebut hari “’Idul Fitri”, karena pada hari ini bagi orang-orang yang telah melaksanakan puasa dengan sungguh-sungguh karena iman dan karena Allah, telah kembali kepada fitrah, terbebas dari dosa,  bagaikan anak yang baru lahir dari kandungan ibunya, sebagaimana dijelaskan Rasulullah dalam Haditsnya:

من صام رمضا ن واقا مه ايما نا واحتسا با خرج من ذنو به كيوم ولدته امه (رواه ابن خزيمه)

“Barangsiapa melakukan puasa di bulan Ramadhan dan mendirikan shalat sunat pada malam harinya karena iman dan karena Allah, niscaya ia terbebas dari segala dosanya, seperti suatu hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya” (HR.Ibnu Khuzaimah).

Fithrah merupakan potensi dasar yang dimiliki seorang manusia ketika diciptakan oleh Allah sebelum  lahir,  yakni sebagai orang yang beriman kepada keesaan Allah, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya:

واذ اخذ ربك من بنى ادم من ظهورهم ذريتهم واشهدهم على انفسهم  الست بربكم قالوا بلى شهدنا ان تقولوا يوم القيمة انا كنا عن هذا غفلين  (الاعراف -172 )

Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu”. Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap (keesaan Tuhan) ini” (QS.Al-A’raf:172).

Dengan demikian, berdasarkan ayat al-Qur’an di atas bahwa setiap anak yang lahir berarti ia dalam keadaan fitrah, dan ini sesuai dengan Hadits dari Nabi sebagai berikut:

كل مولود يولد على الفطرة فابواه يهودانه او ينصرانه او يمجسانه (رواه مسلم)

Setiap anak yang lahir itu dalam keadaan fithrah, maka kedua orang tuanyalah yang mengakibatkan ia menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi” (HR.Muslim).
                                                                                                                                                                                                                                                  
Walaupun manusia itu lahir dalam keadaan fitrah, namun tidak menjamin bahwa manusia itu akan selamanya menjadi orang yang baik, karena fitrah hanya merupakan potensi dasar yang dimiliki seseorang.. Selanjutnya, orang itu tergantung kepada pengaruh yang datang dari luar yang diterimanya. Ia akan menjadi baik, apabila ia dididik dengan secara baik dan benar, terutama oleh orang tuanya. Ia akan menjadi orang yang beriman dan bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa apabila dituntun dan dibimbing dengan bimbingan keimanan yang benar. Sebaliknya, ia pun bisa jadi Yahudi, Nashrani atau Majusi apabila sejak kecil dididik dan diajarkan ajaran-ajaran tersebut. Jadi, baik dan buruknya seseorang itu tergantung kepada bagaimana pendidikan yang diberikan kepadanya.

Hadirin kaum muslimin yang berbahagia.
Idul fithri merupakan back to basicnya manusia, khususnya umat Islam yakni kembali kepada nilai-nilai dasar sebagai manusia yang beriman kepada Allah. Beriman kepada Allah berarti beriman kepada adanya Dzat yang Maha Esa, sebagai pencipta segala sesuatu dan pengatur segala urusan. Dialah satu-satunya yang berhak disembah; Dialah yang harus ditaati dan sama sekali tidak boleh  ditentang dan didurhakai.
Kalau keimanan seperti itu sudah tertanam secara mendalam pada diri seorang muslim, maka ia ibarat sebuah pohon yang akarnya tertancap dengan kuat, dahannya tumbuh dengan subur dan akan menghasilkan buah yang baik. Begitu juga manusia, kalau imannya sudah kuat, maka akan dapat mendorong orang tersebut untuk selalu melakukan amal shaleh dalam kehidupannya sehari-hari, memiliki semangat juang dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi tantangan dan rintangan. Jadi iman itu sangat  menentukan terhadap baik dan buruknya perbuatan seseorang. Rasulullah bersabda:

ان فى الجسد مضغة ان صلحت صلح كله وان فسدت فسد كله  الا وهي القلب (متفق عليه)

“Sesungguhnya pada tubuh manusia itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka akan baiklah seluruh perbuataan manusia, dan jika ia rusak, maka akan rusaklah seluruh  perbuatan manusia. Ingatlah, ia itu adalah iman yang ada di dalam hati” (Muttafaq alaih).

Jadi, iman itu merupakan penggerak  dari seluruh aktivitas manusia, dan iman itu apabila sudah tertanam dengan kokoh dalam diri manusia, maka ia tidak akan mudah terbawa oleh arus zaman, akan teguh pendirian dalam menghadapi berbagai situasi dan kondisi atau dengan kata lain, dia akan menjadi orang yang istiqomah dalam hidupnya.  
Kalau kita renungkan, saat sekarang ini banyak sekali tantangan iman yang dihadapi kaum  muslimin dalam kehidupan sehari-hari yang akan membawa kepada jurang kesesatan, seperti antara lain: adanya program westernisasi (proses pembaratan) dan kristenisasi. Banyak sekali saat ini program-program dan misi-misi  yang ditawarkan oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani kepada kaum muslimin yang dapat mengakibatkan rusaknya moral ummat Islam. Kita sering saksikan dalam televisi, bagaimana mereka menampilkan pergaulan laki-laki dan wanita yang begitu bebas, hidup bersama tanpa ikatan pernikahan, menampilkan pakaian-pakaian yang dianggap trendi yang bertentangan dengan ajaran Islam, dan banyak lagi hal-hal lainnya. Anehnya, walaupun semua itu jelas-jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam, tetapi tidak sedikit kaum muslimin yang meniru dan mencontohnya dengan anggapan bahwa itulah gaya hidup modern. Na’udzubillahi min dzalik.
Belum lagi saat ini kaum muslimin dihadapkan kepada banyaknya misionaris-misionaris yang datang dan berada di tengah-tengah kita dengan sengaja menyebarkan faham dan ajaran kristen dengan berbagai macam cara. Pendek kata, bahwa mereka orang Yahudi dan Nashrani memang tidak akan berhenti untuk merusak dan mengobok-obok sistem ajaran Islam, sehingga umat Islam menjadi lemah imannya dan mengikuti gaya hidup mereka. Hal ini memang telah digambarkan Allah dalam salah satu firman-Nya sebagai berikut:
ولن ترضى عنك اليهود ولا النصرى حتى تتبع ملتهم  قل ان هدى الله هو الهدى (البقرة 120)

“Orang-orang Yahudi an Nashrani tidak akan rela kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)” (QS.Al-Baqarah: 120).
Untuk dapat mengatasi tantangan, ujian dan cobaan yang dihadapi oleh kaum muslimin saat ini tiada jalan lain kecuali dengan mempertebal keimanan dan mempelajari bagaimanakah sesungguhnya syari’at Islam yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya, sehingga ummat Islam dapat membedakan manakah  ajaran Yahudi atau Nashrani, dan mana ajaran Islam yang harus diikuti dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
                                                                                                                                                                                                                                                  
Hadirin kaum muslimin Rahimakumullah.
Pada hari ‘Idul Fitri ini  umat Islam di berbagai penjuru dunia serentak merayakan suatu hari kemenangan, yang kemudian dilanjutkan dengan saling bersilaturahmi untuk saling bermaaf maafan.   Oleh karena itu ‘Idu fitri hendaknya dijadikan sebuah momentum bagi umat Islam untuk mempererat dan memperkokoh tali persaudaraan, sehingga umat Islam menjadi umat yang bersatu, karena pada dasarnya muslim dengan muslim itu saudara, sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya:
انما المؤ منو ن اخو ة فاصلحوا بين اخويكم
 “Mu’min dengan mu’min itu adalah saudara, maka damaikanlah di antara saudaramu itu” (QS.49:10).
Kita sadari bahwa salah satu kelemahan ummat Islam saat ini, khususnya umat Islam di Indonesia yaitu kurangnya kesatuan dan persatuan. Padahal adanya kesatuan dan persatuan akan dapat menentukan masa depan dan sejarah ummat Islam itu sendiri. Dengan tidak adanya persatuan, ummat Islam menjadi lemah, beramacam-macam coraknya dan terpisah-pisah suaranya, bahkan sebagian mencaci sebagian yang lain. Tanpa adanya kesatuan dan persatuan sepertinya tidak dapat digambarkan bahwa ummat Islam ini akan bangkit kembali sebagai umat yang kuat dan unggul dalam berbagai bidang seperti yang pernah terjadi pada masa abad ke 7 Masehi. Ketika orang-orang Barat masih tidur dan masih lemah, orang-orang Islam telah mengalami kejayaan dan kekuatan, sehingga Islam tidak hanya berkuasa di Timur Tengah, tetapi Islam juga pernah menguasai sebagian daratan Eropa, seperti Spanyol dan lain-lainnya. Semua itu, karena umat Islam bersatu dalam sebuah kekhalifahan, memiliki satu pemimpin dan satu komando yang betul-betul menjadi panutan umatnya di seluruh dunia.
Persatuan dan kesatuan umat Islam dapat tercapai, baik di masa Rasulullah, masa sahabat dan masa tabi’in karena mereka berpedoman kepada ajaran al-Qur’an dan As-Sunnah dan memahaminya sesuai dengan pemahaman yang benar. Tanpa kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dan berusaha memahaminya dengan baik dan benar, sepertinya umat Islam saat ini sulit memiliki persatuaan dan kesatuan yang hakiki. Dengan memahami al-Qur’an dan as-Sunnah secara benar, maka firqoh-firqoh, partai-partai, fanatisme golongan, dan lain sebagainya yang dapat membawa perpecahan ummat Islam itu tidak akan terjadi di antara kita.
Untuk dapat tegaknya persatuan dan kesatuan ummat Islam itu memang harus adanya kesadaran dari masing-masing individu yang dimulai dari masyarakat yang sekecil-kecilnya seperti lingkungan RT, RW, Kelurahan, Kecamatan dan seterusnya. Kalau di tingkat RT saja kita masih mementingkan kelompoknya sendiri-sendiri dan masih adanya fanatisme golongan dengan merasa bahwa kelompoknyalah yang paling benar dan paling lurus, maka mustahil akan  terciptanya suatu kesatuan dan persatuan di tingkat nasional yang lebih besar. Padahal, secara nasional umat Islam saat ini dihadapkan kepada berbagai tantangan dan rintangan, khususnya dari orang-orang yang tidak senang melihat umat Islam punya komitmen terhadap ajaran agamanya dan berjuang untuk menegakkan  syari’at  Islam yang telah ditetapkan Allah kepada kita, sehingga berbagai upaya dan cara mereka tempuh untuk melemahkan semangat juang umat Islam, di antaranya dengan melakukan konspirasi dengan pemerintah untuk menangkap dan memenjarakan para tokoh pejuang Islam dengan tuduhan sebagai anggota Jama’ah Islamiyah dan terorisme yang terlibat dalam berbagai pengeboman, walaupun tuduhan itu sampai sekarang belum ada bukti kongkritnya. Anehnya, pemerintah kita, walaupun mereka juga sama-sama muslim mau saja didikte dan menuruti perintah tersebut seperti yang kita saksikan pada  akhir-akhir ini.
Namun begitu, kita masih bisa berharap, dengan adanya pergantian kepemimpinan nasional, mudahan-mudahan adanya perubahan kebijakan, sehingga umat Islam tidak lagi merasa takut untuk menyuarakan dan memperjuangkan aspirasinya, khususnya dalam menegakkan syari’at Islam di Indonesia ini.
             
Hadirin  rahimakumullah. Allahu Akbar, Allahu Akbar  wa lillahil hamd.
Kita selaku umat Islam yang beriman dituntut oleh Allah untuk dapat mengamalkan dan menegakkan syari’at Islam sebagai syari’at yang diturunkan Allah kepada kita untuk mengatur kehidupan kita, baik dalam hubungannya dengan Allah dalam bentuk ibadah mahdhah, seperti sholat, zakat, puasa dan haji, juga dalam hubungannya dengan sesama manusia dalam bentuk mu’amalah, seperti tentang perekonomian, kemasyarakatan, pemerintahan, hukum dan lain-lainnya.
Kita selaku ummat Islam dituntut untuk dapat menerapkan syari’at Islam secara kaffah (menyeluruh)  dalam berbagai aspek kehidupan. Allah berfirman:
يا ايها الذين امنوا ادخلوا فى السلم كا فة ولا تتبعوا خطوات الشيطا ن انه  لكم عدو مبين"
Hai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu sekalian ke dalam Islam secara kaffah, dan janganlah mengikuti langkah-langkah syetan, karena sesungguhnya syetan itu merupakan musuh yang nyata bagimu” (Q.S.Al-Baqoroh; 208) .                                      
Ayat ini mengandung arti bahwa kita selaku ummat Islam dalam menjalankan aktifitas sehari-hari harus berpedoman kepada syari’at  Islam yang telah ditetapkan Allah dalam al-Qur’an, baik dalam menjalankan roda ekonomi, pemerintahan, pendidikan,  hukum dan lain-lainnya.     
Dan apabila masyarakat muslim hidupnya tidak berpedoman pada aturan-aturan Islam yang telah ditetapkan Allah, maka akan sirnalah hakikat Islam sebagai agama Allah, dan jangan mimpi ummat Islam menjadi ummat yang  berada dalam keadilan, kesejahteraan dan kedamaian, bahkan sebaliknya kejahatan, kemaksiatan akan merajalela di mana-mana. Namun, pada akhirnya, semua itu kembali kepada kita sendiri. Adakah keinginan pada kita untuk dapat menegakkan syari’at Islam secara kaffah atau mungkin kita akan tetap berada pada aturan Yahudi dan Nashrani; Adakah keinginan di antara kita agar ummat Islam menjadi ummat yang unggul dan mengalamai kejayaan;  adakah keinginan pada kita untuk menjadi ummat yang bersatu, sehingga menjadi kuat dan tidak mudah digoyang oleh orang lain. Semua itu kembali kepada diri kita sendiri. Kalau ada keinginan, marilah kita   perjuangkan dengan mulai dari diri kita sendiri, sehingga cita-cita ummat Islam menjadi ummat yang berjaya dan unggul dapat tercapai dan negara Indonesia  menjadi sebuah negara yang adil, makmur, aman dan tenteram serta berada dalam ridha Allah SWT. Amin.
 Berhasil atau tidaknya perjuangan tersebut, semua itu tergantung kepada kesadaran dan kesanggupan ummat Islam itu sendiri, khususnya dalam menggalang kesatuan dan persatuan di antara kita. Tanpa adanya persatuan dan kesatuan yang kokoh di antara ummat Islam, mustahil perjuangan menegakkan syari’at Islam di Indonesia akan tercapai. 
Salah satu contoh, mengapa umat Islam gagal dalam usahanya untuk mengamandemen UUD 1945 pasal 2 ayat 29 dan mengangkat kembali Piagam Jakarta yang dapat menjadi dasar untuk melaksanakan syari’at Islam di Indonesia yang terjadi pada sidang MPR tahun 2002.  Itu tiada lain, karena ummat Islam di Parlemen tidak bersatu, padahal mayoritas anggota Parlemen itu ummat Islam. Di antara anggota-anggota parlemen yang katanya sebagai perwakilan dari partai-partai Islam pun tidak semua mendukung adanya amandemen tersebut, apalagi dari partai-partai lainnya, jangankan mereka menyetujui, mendengar kata-kata syari’at Islam saja mereka banyak yang alergi, karena syari’at Islam mereka identikkan dengan hukum potong tangan dan hukum rajam, yang tiada lain itu semua akibat  ketidakpahaman mereka terhadap arti syari’at Islam. Padahal, syari’at Islam merupakan aturan yang diturunkan Allah untuk mengatur kehidupan manusia di dunia ini, baik dalam hubungannya dengan Allah dalam bentuk ibadah mahdhoh maupun hubungannya dengan sesama manusia dalam bentuk mu’amalah, seperti tentang perekonomian, pemerintahan, kemasyarakatan, hukum dan lain-lainnya yang semuanya itu apabila dilaksanakana dengan secara baik dan benar tidak akan merugikan orang lain dan justeru  akan membawa umat manusia menjadi umat yang adil, sejahtera dan penuh kedamaian.
Contoh lain, mengapa partai Islam pada pemilu tahun 2009 mengalami kekalahan. Itu jelas karena umat Islam tidak mau bersatu, mereka masing-masing membawa bendera sendiri-sendiri, dan banyak pula yang tidak mendukung partai Islam, sehingga berdampak terhadap kalahnya parta Islam. 
Dari contoh itu, jelaslah bahwa ummat Islam di Indonesia itu masih belum adanya persatuan dan kesatuan atau dengan kata lain masih bercerai berai membawa misi dan tujuan masing-masing, membela golongan dan partainya masing-masing dengan tidak berpedoman pada aturan Islam.              
Tidak adanya persatuan dan kesatuan di antara ummat Islam telah menyebabkan lemahnya ummat Islam dan kaburnya pengertian  tentang hakikat dari  persatuan dan kesatuan itu sendiri. Selogan persatuan telah menjadi kalimat yang hanya terdiri dari rangkaian kata-kata dan huruf-huruf yang mati tanpa makna atau hanyalah menjadi kata-kata hiasan untuk basa basi dan sopan santun pembicaraan. Dengan kata lain, persatuan hanyalah merupakan baju luar dari tubuh ummat Islam yang dapat ditemukan dalam pertemuan-pertemuan tidak resmi antara para pemimpin ummat, dalam barisan pawai, dalam halal bihalal atau dalam pernyataan-pernyataan kerjasama di atas kertas. Padahal,  hakikat persatuan merupakan konstruksi dari darah, daging, kerangka dan susunan saraf yang membentuk satu kesatuan tubuh umat Islam sebagai satu kesatuan jasad atau organisme.
Hadirin kaum muslimin yang berbahagia.
Kalau kita lihat firman Allah dalam al-Qur’an yang kita jadikan  pedoman dalam hidup kita, ummat Islam itu sesungguhnya merupakan ummat yang satu atau ummatan wahidah.
وان هذه امتكم امة واحدة  (المؤ منو ن : 52  (
 “Sesungguhnya umatmu ini merupakan umat yang satu” (Al-Mu’minun:52).
Karena umat Islam itu merupakan umat yang satu, maka kesatuan umat Islam itu seharusnya merupakan kesatuan yang utuh, kokoh  dan kuat, sehingga tidak mudah dihancurkan oleh orang lain. Rasulullah menjelaskan dalam Haditsnya yang artinya:

“Perumpamaan orang-orang mu’min itu dalam cinta-mencintai, kasih mengasihi dan santun menyantuninya seperti suatu tubuh, yang apabila menderita satu anggota dari tubuh itu, ikut menderita pula keseluruhan tubuh dengan tak dapat tidur dan demam” (HR.Muslim).

Dalam Hadits yang lain, Rasulullah menjelaskan pula, yang artinya:
 “Orang mu’min terhadap orang mu’min itu tak obahnya bagaikan suatu bangunan yang bagian-bagiannya saling kuat menguatkan” (HR.Muslim).
Kalau kita melihat persatuan dan kesatuan masyarakat muslim di zaman Rasulullah sungguh sangat menakjubkan. Rasulullah telah membangun suatu masyarakat yang berada dalam persatuan dan kesatuan yang kokoh yang dilandasi atas dasar kecintaan dan tolong menolong. Suatu keistimewaan masyarakat muslim di zaman Rasulullah ialah ukhuwah fi dinillah-nya, mahabbah (kecintaan) dan tolong menolong di antara mereka, khususnya dalam kebaikan dan ketakwaan. Rasulullah sangat menjaga kesatuan ummat Islam, bahkan masalah ini mendapatkan perhatian yang sangat besar bagi beliau. Apalagi ketika beliau berada di Madinah, Rasulullah sangat mempererat tali ukhuwah antara kaum Muhajirin dan Anshar. Bahkan, jika kaum Anshar mempunyai dua isteri, maka kaum Muhajirin dipersilahkan untuk memilih salah satu darinya. Kemudian yang dia pilih, dinikahkan dengannya. Rasulullah juga memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk saling tolong menolong dan saling bahu membahu. Rasulullah bersabda, yang artinya:

“Orang Muslim adalah saudara Muslim yang lain, tidak mendzoliminya dan tidak pula melepaskannya begitu saja. Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya. Barangsiapa memudahkan seorang Muslim dari kesulitan-kesulitannya, maka Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Barangsiapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat” (H.R.Bukhari).

Rasulullah juga melarang sahabat-sahabatnya untuk berfirqoh-firqoh dan memutuskan tali silaturahmi antara sesama kaum Muslimin, sebagaimana dijelaskan dalam sabdanya, yang artinya:  
 “Janganlah kalian saling membenci, janganlah saling dengki, dan janganlah saling bermusuhan,  maka jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. Dan tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari” (HR. Muslim).
Masyarakat muslim di zaman Rasulullah betul-betul adanya rasa keterikatan, tolong menolong dan hormat menghormati satu dengan yang lainnya. Mereka tidak mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari, tidak menganiaya tetangga, tidak berdusta, tidak berbohong, tidak menipu, dan tidak saling berbuat curang. Masyarakat muslim saat itu betul-betul dihiasi oleh rasa cinta yang tulus, kasih sayang, kejujuran, amanah, berbuat baik antara anak dan orang tua dan saling hormat menghormati antara satu dengan yang lainnya. Mereka saling berkunjung, dan mengunjungi saudaranya yang sakit, saling menyampaikan salam jika bertemu, nasihat menasihati, saling menutupi ‘aib saudaranya dan saling menjaga kelemahan di antara kaum muslimin. Dengan demikian, terciptalah suatu masyarakat yang bersatu padu, bagaikan bangunan yang tersusun rapi, saling menguatkan bagian yang satu dengan bagian yang lainnya.

Hadirin kaum muslimin rahimakumullah. Allahu Akbar wa lillahil hamd.
Apabila kita lihat dunia Islam saat ini, sungguh sangat memperihatinkan. Ummat Islam terpecah-pecah menjadi negara-negara  kecil yang berjalan pada tujuannya masing-masing. Di setiap negara dipimpin oleh penguasa yang lemah, yang berkeras ingin melebarkan kekuasaannya dengan tujuan meningkatkan bangsanya menuju kehidupan yang serba ada dan berkecukupan, namun tidak berdasar pada hukum-hukum yang ditetapkan Allah yang terdapat di dalam al-Qur’an. Atau dengan kata lain, mereka lebih cenderung untuk berkiblat ke negara-negara Barat yang dianggap maju oleh mereka.
Begitu juga ummat Islam di Indonesia, ada kecenderungan ke arah sana, yakni dalam berbagai aspek lebih condong berkiblat ke negara Barat yang sudah jelas-jelas sekuler. Para pemimpin di Indonesia lebih condong menerapkan dan mengaplikasikan konsep-konsep Barat dalam berbagai bidang kehidupan, seperti dalam bidang ekonomi, pemerintahan, pendidikan, hukum dan lain-lainnya. Padahal, Islam mempunyai konsep yang jelas yang diberikan Allah yang terdapat dalam al-Qur’an. Anehnya, mereka enggan untuk mengikuti petunjuk al-Qur’an dan bahkan cenderung menolaknya. Dan orang-orang yang bersikap seperti itu,  justeru bukan orang lain, melainkan mereka adalah orang Islam juga. Kalau pemimpin ummat Islam bersikap seperti itu, maka bagaimanakah yang akan terjadi pada masyarakatnya. Karena, bagaimanapun masyarakat itu, khususnya masyarakat  awam akan mengikuti apa yang dijadikan kebijakan oleh pemimpinnya, walaupun kebijakan itu tidak sesuai dan bertentangan dengan aturan-aturan Islam.

Hadirin kaum muslimin Rahimakumullah.
Demikianlah khutbah yang dapat saya sampaikan, mudah-mudahan ada manfaatnya, dan sebagai penutup dari khutbah ini marilah kita bersama-sama memanjatkan do’a ke Hadirat Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Ya Allah ya Tuhan kami, hanya Engkaulah tempat  kami berlindung, hanya Engkaulah tempat kami memohon, dan hanya Engkaulah   yang Maha Pengampun. Ampunilah segala dosa-dosa kami dan dosa-dosa kedua orang tua kami, dan kasihanilah mereka sebagai mereka telah mengasihani kami di waktu kecil.
Ya Allah yang Maha Pembuka hati, bukakanlah hati kami, hati semua kaum muslimin, hati para pemimpin kami agar menjadi orang yang beriman kepadamu,  memiliki kesadaran untuk bersatu, memiliki kesadaran untuk menegakkan syari’at Islam yang telah Engkau tetapkan kepada kami
Ya Allah ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau tersalah, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orangsebelum kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa-apa yang tak sanggup kami memikulnya, beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami, Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami dari orang-orang yang kafir.
ربنا اتنا فى الدنيا حسنة وفى الا خرة حسنة وقنا عذاب النار والحمد لله رب العا لمين


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar