Minggu, 06 Februari 2011

Peranan Orang Tua dlm Mendidik Anak Mnrt Islam


PERANAN ORANG TUA  
DALAM  PENANAMAN  PENDIDIKAN NILAI
BAGI ANAK  DALAM KELUARGA MENURUT  ISLAM
----------------------------------------------------------------------------  
Oleh: Fachrudin

Abstraksi:
Pendidikan dalam keluarga sangat penting artinya bagi anak-anak, karena pendidikan keluarga merupakan pendidikan yang pertama kali diterima oleh anak-anak dan waktunya juga lebih banyak dan lebih panjang dibandingkan dengan pendidikan di sekolah.
Pendidikan nilai yang harus ditanamkan kepada anak-anak dalam keluarga agar anak-anak kelak menjadi manusia yang berpribadi utuh harus bersifat menyeluruh, yang meliputi pendidikan jasmani dan kesehatan, pendidikan akal (intelektual), pendidikan psikologi dan emosi, pendidikan agama dan spiritual, pendidikan akhlak, dan pendidikan sosial.
Metode penanaman nilai-nilai pendidikan dalam keluarga menurut Islam, khususnya dalam transformasi dan internalisasi nilai-nilai pendidikan kepada anak-anak agar anak menjadi manusia yang berpribadi luhur pada dasarnya mengacu kepada dasar-dasar yang ada dalam al-Qur’an dan As-Sunnah. Sedangkan realisasinya memiliki banyak variasi sesuai dengan situasai dan kondisi  serta aspek mana dari pendidikan tersebut. Dengan kata lain, bahwa masing-masing aspek pendidikan itu memiliki metode yang berbeda-beda sesuai dengan tujuan yang ingin dicapainya.

Kata-kata Kunci: Orang Tua, Keluarga,  Pendidikan nilai, Anak
A. Pendahuluan
            Orang tua memegang peranan yang sangat penting dalam mendidik anak-anaknya. Baik buruknya anak-anak di masa yang akan datang banyak ditentukan oleh pendidikan dan bimbingan orang tuanya. Karena, di dalam keluarga itulah anak-anak pertama kali memperoleh pendidikan  sebelum pendidikan-pendidikan yang lain. Sejak anak-anak lahir dari rahim ibunya, orang tua tua selalu memelihara anak-anak mereka dengan penuh kasih sayang dan mendidiknya dengan secara baik dengan harapan anak-anaknya tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa yang baik. Pendidikan yang diberikan di lingkungan keluarga berbeda dengan pendidikan yang dilaksanakan di sekolah, karena pendidikan dalam keluarga bersifat informal yang tidak terikat oleh waktu dan program pendidikan secara khusus.
            Pendidikan dalam keluarga berjalan sepanjang masa, melalui proses interaksi dan sosialisasi di dalam keluarga itu sendiri. Esensi pendidikannya tersirat dalam integritas keluarga, baik di dalam komunikasi antara sesama anggota keluarga, dalam tingkah laku keseharian orang tua dan anggota keluarga lainnya juga dalam hal-hal lainnya yang berjalan dalam keluarga semuanya merupakan sebuah proses pendidikan bagi anak-anak. Oleh karena itu, orang tua harus selalu memberikan contoh tauladan yang baik kepada anak-anak mereka, karena apa pun kebiasaan orang tua di rumah akan selalu dilihat dan dicerna oleh anak-anak.
            Walaupun di dalam keluarga tidak ada kurikulum khusus tentang pendidikan anak-anak, tetapi orang tua  harus tetap dapat memberikan bimbingan kepada anak-anaknya dengan metode yang baik, baik yang berkaitan dengan pendidikan jasmani dan kesehatan anak-anak maupun pendidikan agama, akhlak, psikologi, sosial dan pendidikan lainnya yang diperlukan oleh anak-anak dalam rangka menyongsong hari esok agar menjadi manusia yang berpribadi luhur. Dengan kata lain, bahwa orang tua memiliki peran penting  dalam pendidikan anak di lingkungan keluarga. Dan agar pendidikan dalam keluarga tersebut dapat berhasil dengan baik, maka diperlukan suatu metode transformasi dan internalisasi nilai-nilai pendidikan kepada anak-anak dalam keluarga tersebut.        
Oleh karena itu, masalah utama yang aka dibahas dalam tulisan ini yaitu: “Bagaimana Peranan Keluarga dalam Penanaman Pendiikan Nilai  Bagi Anak Menurut Islam”.  Dari tulisan ini diharapkan dapat menghasilkan sesuatu konsep tentang cara-cara menanamkan nilai-nilai pendidikan kepada anak dalam keluarga menurut Islam yang tentunya akan sangat bermanfaat, khususnya bagi orang tua yang mempunyai cita-cita agar anaknya kelak menjadi manusia yang baik dan berpribadi luhur.   

B. Makna Keluarga dan Peranannya
             Keluarga merupakan unit terkecil dalam suatu masyarakat yang terdiri atas ayah, ibu, anak-anak dan kerabat lainnya (M.Arifin (1991). Lingkungan keluarga merupakan tempat di mana anak-anak dibesarkan dan merupakan lingkungan yang pertama kali dijalanai oleh seorang anak di dalam mengarungi hidupnya, sehingga apa yang dilihat dan dirasakan oleh anak-anak dalam keluarga akan dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jiwa seorang anak.
Keluarga merupakan unit pertama dan institusi pertama dalam masyarakat di mana hubungan-hubungan yang terdapat di dalamnya, sebahagian besarnya bersifat hubungan langsung dan di situlah berkembang individu dan di situ pulalah terbentuknya tahap-tahap awal proses sosialisasi bagi anak-anak.  Dari interaksi dalam keluarga inilah anak-anak memperoleh pengetahuan, keterampilan, minat, nilai-nilai, emosi dan sikapnya dalam hidup dan dengan itu pulalah mereka  memperoleh ketenteraman dan ketenangan.
            Pembentukan keluarga dalam Islam bermula dengan terciptanya hubungan suci yang menjalin seorang laki-laki dan seorang perempuan melalui perkawinan yang halal, memenuhi rukun-rukun dan syarat-syarat sahnya perkawinan tersebut. Oleh karena itu, kedua suami dan isteri itu merupakan dua unsur utama dalam keluarga. Jadi, keluarga dalam pengertiannya yang sempit merupakan suatu unit sosial yang terdiri dari seorang suami dan seorang isteri, atau dengan kata lain, keluarga adalah perkumpulan yang halal antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bersifat terus menerus di mana yang satu merasa tenteram dengan yang lain sesuai dengan yang ditentukan oleh agama dan masyarakat. Dan ketika kedua suami isteri itu dikaruniai seorang anak atau lebih, maka anak-anak itu menjadi unsur utama ketiga pada keluarga tersebut di samping dua unsur sebelumnya.
            Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi setiap individu di mana ia berinteraksi. Dari interaksi dengan lingkungan pertama inilah individu memperoleh unsur-unsur dan ciri-ciri dasar daripada kepribadiannya. Juga dari situlah ia memperoleh akhlak, nilai-nilai, kebiasaan dan emosinya dan dengan itu ia merobah banyak kemungkinan-kemungkinan, kesanggupan-kesanggupan dan kesediannya menjadi kenyataan dalam hidup dan tingkah laku yang tampak. Jadi keluarga itu bagi seorang individu merupakan simbol atas nilai-nilai yang mulia, seperti keimanan yang teguh kepada Allah, pengorbanan, kesediaan berkorban untuk kepentingan kelompok, cinta kepada kebaikan, kesetiaan dan lain-lain lagi nilai mulia yang dengannya keluarga dapat menolong individu untuk menanamkannya pada dirinya.
            Individu itu perlu pada keluarga bukan hanya pada tingkat awal hidupnya dan pada masa kanak-kanak, tetapi ia memerlukannya sepanjang hidupnya, sebab di dalam keluargalah, baik  anak-anak, remaja, orang dewasa, orang tua maupun  manula mendapatkan rasa kasih sayang, rasa tenteram dan ketenangan.
            Keberadaan keluarga bukan hanya penting bagi seorang individu, tetapi juga bagi masyarakat, sehingga masyarakat menganggap keluarga sebagai institusi sosial yang terpenting dan merupakan unit sosial yang utama melalui individu-individu yang telah dipersiapkan di dalamnya, baik berupa nilai-nilai, kebudayaan, kebiasaan maupun tradisi yang ada di dalamnya. Dari segi inilah, maka keluarga dapat menjadi ukuran dalam sebuah masyarakat, dalam arti apabila masing-masing keluarga itu berada dalam keluarga yang sehat, maka akan sehatlah suatu masyarakat. Dan sebaliknya, jika masing-masing keluarga itu tidak sehat, dampaknya terhadap masyarakat pun akan menjadi tidak sehat.
       
C. Peranan  Pendidikan Keluarga 
            Keluarga sebagai tempat di mana anak-anak dibesarkan memiliki peranan yang sangat penting dalam pendidikan anak, karena pertama-pertama yang akan dilihat dan dirasakan oleh anak sebelum orang lain adalah keluarga. Peranan pendidikan keluarga tidak akan tergeser oleh banyaknya institusi-institusi dan lembaga-lembaga pendidikan yang ada, seperti Taman Kanak-kanak, Sekolah-sekolah, Akademi-akademi dan lain-lainnya. Begitu juga dengan bertambahnya lembaga-lembaga kebudayaan, kesehatan, politik, agama tidak akan menggeser fungsi pendidikan keluarga.
            Walaupun begitu tingginya tingkat perkembangan dan perubahan yang berlaku disebahagian besar masyarakat modern, termasuk masyarakat muslim sendiri, tetapi keluarga tetap memelihara fungsi pendidikannya dan menganggap bahwa hal itu merupakan sebagian tugasnya, khususnya  dalam rangka menyiapkan sifat cinta mencintai dan keserasian di antara anggota-anggotanya. Begitu juga ia harus memberi pemeliharaan kesehatan, psikologikal, spiritual, akhlak, jasmani, intelektual, emosional, sosial di samping menolong mereka menumbuhkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan kebiasaan yang diingini yang berguna dalam segala lapangan hidup mereka serta sanggup mengambil manfaat dari pelajaran lembaga-lembaga lain.
            Peranan pendidikan yang sepatutnya dipegang oleh keluarga bagi anggota-anggotanya secara umum adalah peranan yang paling pokok dibanding dengan peranan-peranan lain. Lembaga-lembaga lain dalam masyarakat, misalnya lembaga politik, ekonomi, kebudayaan dan lain-lain tidak dapat memegang peranan itu. Walaupun lembaga-lembaga lain dapat menolong keluarga dalam tindakan pendidikan, akan tetapi ia tidak sanggup menggantikan, kecuali dalam keadaan-keadaan luar biasa, seperti ketika ibu bapak meninggal atau karena ibu bapak rusak akhlak dan menyeleweng dari kebenaran, atau mereka acuh tak acuh dan tidak tahu cara-cara yang betul dalam mendidik anak.  Orang tua semacam ini tidak akan sanggup mendidik anak-anaknya menjadi orang yang baik dan terhormat, karenanya akan menjadi mashlahat apabila anak-anak itu dididik di luar keluarga mereka, misalnya dalam institusi-institusi yang yang baik, teratur dan bertanggungjawab atas baik dan buruknya kepribadian.
            Apabila fungsi keluarga dalam kajian psikologikal modern menekankan pendidikannya kepada  pembinaan jiwa mereka dengan rasa cinta, kasih sayang dan ketenteraman, justeru para ahli ilmu jiwa Muslim jauh sebelum itu telah menekankan perkara ini dalam berbagai tulisannya. Ulama-ulama Muslim dahulu kala menekankan pentingnya peranan pendidikan keluarga itu pada tahun-tahun pertama usia anak-anak yang berdasar kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Di samping itu, nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah banyak yang menekankan pentingnya pendidikan dalam keluarga, di antaranya: Allah berfirman: “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (Q.S.(66):6). Juga Rasulullah bersabda: “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka ibu bapaknyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nashrani atau Majusi (H.R.Tabrani dan Baihaqi). Dalam sabdanya yang lain, Rasulullah menjelaskan: “Awasilah anak-anakmu dan perbaikilah adabnya” (H.R.Ibnu Majah).
            Dari bukti-bukti yang dikemukakan di atas, menunjukkan bahwa mendidik anak dalam keluarga kewajiban paling utama. Kewajiban ini tidak dapat ditinggalkan kecuali karena udzur, dan juga tidak akan membebaskan ia dari tanggungjawab ini dengan adanya institusi-institusi pendidikan yang didirikan khusus untuk anak-anak dan generasi muda. Sebab, institusi itu tidak akan sanggup menggantikan keluarga dalam menanamkan rasa cinta dan kasih sayang kepada anak-anak.
             
D. Peranan Orang Tua dalam  Penanaman Pendidikan Nilai
1.      Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Jasmani dan Kesehatan
Keluarga mempunyai peranan penting dalam menolong pertumbuhan anak-anaknya dari segi jasmani, baik aspek perkembangan atau aspek perfungsian juga dalam hal memperoleh pengetahuan, konsep-konsep, keterampilan-keterampilan, kebiasaan-kebiasaan, dan sikap terhadap kesehatan yang harus dimiliki untuk mencapai kesehatan jasmani yang sesuai dengan usia menurut kematangan dan pengamatan mereka.
Peranan keluarga dalam menjaga kesehatan anak-anaknya dapat dilaksanakan sebelum bayi lahir, yaitu melalui pemeliharaan terhadap kesehatan ibu dan memberinya makanan yang baik dan sehat selama mengandung, sebab hal itu akan berpengaruh terhadap anak dalam kandungan. Sehingga apabila bayi lahir, maka tanggungjawab keluarga terhadap kesehatan anak dan ibunya akan semakin banyak.
Di dalam al-Qur’an dan al-Hadits banyak dikemukakan tentang bagaimana cara mendidik anak-anak dalam bidang pendidikan jasmani dan kesehatan, agar anak tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sehat kelak.  Di antaranya, Allah berfirman: “Makan dan minumlah dan jangan kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang berlebih-lebihan” (QS.(7):51). “Bersihkanlah pakaianmu” (QS (74):4). “Hendaklah ibu-ibu menyusukan anak-anaknya dua tahun penuh” (QS (2):233). Selain dalam al-Qur’an, dalam Hadits juga banyak dijelaskan, di antaranya: Berobatlah, sebab yang menciptakan penyakit juga menciptakan obat (H.R. Ahmad).   “Ajarilah anak-anakmu berenang dan memanah dan suruhlah mereka melompat ke atas kuda” (H.R.Muslim). Selain dalam al-Qur’an dan Al-Hadits, ada juga perkataan Sahabat Umar RA: “Ajarilah anak-anakmu berenang dan memanah dan suruhlah mereka melompat ke atas kuda.
Dari ayat al-Qur’an dan Hadits serta perkataan sahabat di atas, jelaslah bahwa Islam sangat memperhatikan tentang pendidikan jasmani dan kesehatan anak-anaknya. Hanya saja, bagaimana metode penyampaiannya itu diserahkan kepada para ahli dalam bidangnya, yang dalam hal ialah para ahli pendidikan. Di antara metode  yang dapat menolong untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan jasmani dan kesehatan anak-anak itu adalah:
a. Memberi peluang yang cukup untuk menikmati air susu ibu, jika kesehatan ibu memungkinkan, sebab pada air susu ibu, terkandung makanan jasmani, psikologikal dan spiritual yang tidak terdapat pada susu botol, walau bagaimanapun kandungan dan susunan bahan-bahannya.
b. Menjaga kesehatan dan kebersihan jasmani dan pakaiannya dan melindunginya dari serangan angin, panas, terjatuh, kebakaran, tenggelam, meminum bahan-bahan berbahaya, dan lain sebagainya.
c. Menyiapkan makanan yang cukup yang mengandung unsur-unsur makanan pokok dan kalori yang sesuai dengan tingkat umur anak-anak. 
d. Memberikan imunisasi, seperti imunisasi polio, difteria, campak, lumpuh anak-anak, TBC dan lain-lainnya berupa penyakit anak-anak yang telah ditemukan oleh para ahli kedokteran.
e. Selalu memeriksakan ke dokter terhadap berbagai alat tubuh dan memberi peluang untuk bergerak badan dan mengajarnya berbagai kegiatan dan permainan yang berfaedah dan dapat menolong pertumbuhan dan menguatkan otot-otot dan berbagai anggota tubuhnya, juga harus diberi peluang untuk istirahat yang diperlukan untuk kesehatan jasmaninya.
f. Diberi pengetahuan tentang konsep-konsep kesehatan yang baik sesuai dengan usianya dan menolong membentuk kebiasaan dan sikap kesehatan yang baik dan menjadi tauladan yang baik dalam menjalani konsep hidup sehat.
g. Memberi contoh yang baik dalam kebersihan, cara-cara duduk, makan, minum dan membimbing anak-anak ke arah pertumbuhan kesehatan jasmani yang normal.
h. Menyiapkan tempat tinggal yang sehat yang memenuhi syarat-syarat kesehatan dan selalu meneliti penyakit yang diidapnya sejak awal pertumbuhannya dan berusaha mengobatinya.
   
2.      Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Akal (Intelektual)
Walaupun pendidikan akal telah dikelola oleh institusi-institusi yang khusus semenjak dulu, tetapi keluarga masih tetap memegang peranan penting dan tidak dapat dibebaskan dari tanggungjawab ini. Bahkan ia memegang tanggungjawab besar sebelum anak-anaknya memasuki sekolah. Di antara tugas-tugas keluarga dalam hal ini adalah untuk menolong anak-anaknya menemukan, membuka dan menumbuhkan kesediaan-kesediaan bakat-bakat, minat dan kemampuan akalnya dan memperoleh kebiasaan-kebiasaan dan sikap intelektual yang sehat dan melatih indera kemampuan-kemampuan akal tersebut.
Islam sangat memperhatikan pendidikan akal bagi anak-anak dan ini terbukti dari banyaknya ayat-ayat al-Qur’an dan As-Sunnah yang menekankan keutamaan akal, ilmu dan perintah untuk merenung dan berpikir tentang kekuasaan Allah, di antaranya: “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi dan adanya pergantian siang dan malam itu ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal” (QS (3):190).
Untuk dapat memperoleh hasil yang baik dalam mengaplikasikan pendidikan akal dalam keluarga, maka di antara metode yang dapat digunakan ialah:
a. Mempersiapkan peralatan di rumah  dengan segala macam perangsang intelektual dan budaya. Di anatara berbagai perangsang ini adalah permainan-permainan pengajaran, gambar-gambar, buku-buku dan majalah yang dapat menyebabkaan anak-anak gemar menelaah kandungan buku-buku dan majalah-majalah dan bersedia membaca sebelum ia belajar membaca dan menulis.
b. Membiasakan anak-anak secara umum berpikir logis dalam menyelesaikan masalah-masalah yang mereka hadapi dan memberi contoh yang baik  dalam berpikir logis tersebut.
c. Membiasakan mereka mengaitkan akibat-akibat dengan sebabnya dan pendahuluan dengan kesimpulannya. Begitu juga dengan membiasakan berfikir objektif, kejernihan dalam mengambil keputusan, terus terang dalam perkataan dan jangan membelok dalam pemikiran, dan lain-lain lagi cara yang dapat menolong keluarga dal;am mendidik anak-anaknya dari segi intelektual sebelum dan sesudah masuk sekolah.

3.      Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Psikologi
Di antara bidang-bidang yang mana keluarga dapat memainkan peranan penting adalah pendidikan psikologikal dan emosional. Melalui pendidikan itu, keluarga dapat menolong anak-anaknya dan anggota-anggotanya secara umum untuk menciptakan pertumbuhan emosi yang sehat menciptakan kematangan emosi yang sesuai dengan umurnya, menciptakan penyesuaian psikologikal yang sehat dengan dirinya sendiri dan dengan orang-orang lain di sekelilingnya. Begitu juga dengan menumbuhkan emosi kemanusiaan yang mulia, seperti cinta kepada orang lain, mengasihani orang lemah dan teraniaya, menyayangi dan mengasihani fakir miskin, kehidupan emosi yang rukun dengan orang-orang lain dan menghadapi masalah-masalah psikologikal secara positif dan dinamis.
Berkaitan dengan pendidikan psikologi dalam keluarga ini dalam Hadits banyak dikemukakan, di antaranya: Hadits yang diriwayatkan dari  Aisyah RA: “Telah datang orang Badwi kepada Nabi dan Nabi bersabda: “Adakah kamu suka mencium anak-anakmu?. Kami tidak pernah menciumnya. Nabi bersabda: Tidakkah Allah telah mencabut dari hatimu rasa kasih sayang (HR.Bukhari dan Muslim). Diriwayatkan dari Abu Hurairah, beliau berkata:  Bahwa Nabi SAW mencium Hasan bin Ali, sedang al-‘Aqra bin Habits al-Tamimi duduk di sampingnya. Kemudian Al-‘Aqra berkata: Aku mempunyai sepuluh orang anak, belum pernah aku seorang pun di antara mereka. Rasulullah memandang Semua cara-cara di atas telah dibuktikan oleh penmuan-penemuan para peneliti dalam bidang psikologi dan pendidikan dan diterima oleh logika yang waras. Juga dikuatkan oleh ajaran agama yang bertujuan untuk menanamkan rasa tenteram, harapan, dan kepercayaan diri dan menguatkan unsur kebenaran, kebaikan, keadilan dan persamaan bagi anak-anak. kepadanya, lalu bersabda: Barangsiapa tidak mengasihani dia, maka tidak akan dikasihani (HR.Bukhari dan Muslim).
            Untuk dapat mengaplikasikan pendidikan psikologi dalam keluarga agar memperoleh hasil sesuai dengan apa yang diharapkan, maka  langkah-langkah yang harus diambil oleh orang tua dalam mendidik dan memelihara anak-anaknya dari segi psikiologi adalah sebagai berikut:
a.       Mengetahui segala keperluan psikologi dan sosialnya serta mengetahui kepentingan tentang cara-cara memuaskannya untuk mencapai penyesuaian psikologi bagi anak-anak.
b.      Mengetahui gejala-gejala dan sifat-sifat merasa puas atau ketidak puasannya dalam tingkah laku anak-anak.
c.       Berusaha memberikan kesempatan bergerak dan cara-cara bergaul yang akan menolong ia memuaskan kebutuhan tersebut supaya mereka jangan merasa tidak tenteram dan juga merasa tidak mendapat perhatian dan penghargaan.
d.      Dalam memberikan hukuman jangan menggunakan cara-cara ancaman, kekejaman dan siksaan badan, dan juga jangan sampai menimbulkan perasaan diabaikan.
e.       Jangan melukai perasaan anak-anak dengan kritikan tajam, ejekan, cemoohan, menganggap enteng pendapat anak-anak, membandingkan mereka dengan anak-anak tetangga dan kaum kerabat dan lain-lainnya.
f.       Memberikan kepada mereka peluang untuk menyatakan diri, keinginan, pikiran, dan pendapat mereka dengan sopan dan hormat, di samping menolong mereka berehasil dalam pelajaran dan menunaikan tugas yang dipikulkan kepadanya.

4.      Penanaman Nilai-nilai Pendidikan  Spiritual
Pendidikan spiritual termasuk bidang pendidikan yang harus mendapat perhatian penuh dari orang tua kepada anak-anaknya. Pendidikan spiritual ini akan dapat membangkitkan kekuatan dan kesediaan spiritual yang bersifat naluri yang ada pada anak-anak melalui bimbingan agama yang sehat dan mengamalkan ajaran-ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam al-Qur’an dan As-Sunnah banyak dikemukakan tentang perlunya pendidikan spiritual dalam keluarga, di antaranya: Ketika lukman mendidik anaknya dan berkata: “Hai anakku, dirikanlah sholat, dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar” (QS (31):17). Dalam Hadits dijelaskan: “Perintahlah anak-anakmu sholat ketika mereka berumur tujuh tahun” (HR.Abu Dawud).
Agar pendidikan spiritual dalam keluarga mencapai hasil yang memuaskan, maka di antara metode praktis yang patut digunakan oleh keluarga untuk menanamkan semangat keagamaan pada diri anak-anak adalah sebagai berikut:
a. Memberi tauladan yang baik kepada mereka tentang kekuatan iman kepada Allah dan berpegang kepada ajaran-ajaran agama dalam bentuknya yang sempurna dalam waktu tertentu.
b. Membiasakan mereka melaksanakan syi’ar-syi’ar agama sejak kecil, sehingga pelaksanaan itu menjadi kebiasaan  yang mendarah daging  dan mereka melakukannya dengan kemauan sendiri serta merasa tenteram dengan melakukannya.
c.  Menyiapkan suasana  spiritual yang sesuai di rumah di mana mereka berada.
d.      Menggalakkan mereka turut serta dalam aktivitas-aktivitas pembinaan spiritual.

5.      Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Akhlak
Pendidikan agama erat kaitannya dengan pendidikan akhlak . Tidak berlebihan kalau kita katakan bahwa pendidikan akhlak dalam pengertian Islam adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan agama. Sebab yang baik adalah yang dianggap baik oleh agama dan yang buruk adalah yang dianggap buruk oleh agama. Sehingga nilai-nilai akhlak, keutamaan-keutamaan akhlak dalam masyarakat Islam adalah akhlak dan keutamaan yang diajarkan oleh agama. Dan seorang Muslim tidak sempurna agamanya sehingga akhlaknya menjadi baik. Para filosof pendidikan Islam hampir semuanya sepakat bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam. Sebab, tujuan tertinggi pendidikan Islam adalah mendidik jiwa dan akhlak.
Keluarga memegang peranan penting sekali dalam pendidikan akhlak untuk anak-anak sebagai institusi yang mula-mula sekali berinteraksi dengannya. Oleh karena itu, keluarga harus mengambil porsi yang banyak tentang pendidikan akhlak ini. Mengajar mereka akhlak yang mulia yang diajarkan Islam, seperti kebenaran, kejujuran, keikhlasan, kesabaran, kasih sayang, cinta kebaikan, pemurah, berani dan lain-lainnya. Orang tua juga harus mengajarkan nilai dan faedah berpegang teguh pada akhlak di dalam hidup, dan membiasakan mereka berpegang kepada akhlak sejak kecil.
Di antara dalil yang digunakan pendidik Islam tentang pentingnya pendidikan akhlak dan pentingnya peranan keluarga dalam hal itu adalah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, di mana Nabi pernah bersabda: “Tidak ada pemberian seorang Bapak kepada anaknya yang melebihi dari akhlak yang baik” . Juga dalam hadits riwayat At-Turmudzi dan At-Tabrani, bahwa Rasulullah bersabda: Jika seseorang mengajar anaknya, lebih baik baginya daripada ia bersedekah setiap hari setengah gantang kepada orang miskin”. Ada pula Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Ibnu Abbas, ia berkata: Wahai Rasulullah: Engkau telah mengajar kami tentang hak orang tua terhadap anaknya. Maka apa pula hak anak terhadap orang tuanya. Beliau bersabda: “Bahwa engkau memberinya nama yang baik dan memperbaiki adabnya”. Juga ada Hadits riwayat Ibnu Majah, bahwa Nabi bersabda: “Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka”.
Sedangkan metode penanaman akhlak  kepada anak dalam keluarga menurut Hasan Langgulung (1989) dapat menggunakan cara-cara sebagai berikut:
a.       Memberi contoh yang baik bagi anak-anaknya dalam berpegang teguh kepada akhlak yang mulia. Sebab orang tua yang tidak berhasil menguasai dirinya tentulah tidak akan sanggup meyakinkan anak-anaknya untuk memegang akhlak yang diajarkannya.
b.      Menyediakan bagi anak-anaknya peluang-peluang dan suasana praktis di mana mereka dapat memperaktekkan akhlak yang diterima dari orang tuanya.
c.       Memberi tanggungjawab yang sesuai kepada anak-anaknya supaya mereka merasa bebas memilih dalam tindak tanduknya.
d.      Menunjukkan bahwa keluarga selalu mengawasi mereka dengan sadar dan bijaksana.
e.       Menjaga mereka dari teman-teman yang menyeleweng dan tempat-tempat kerusakan.

6.      Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Sosial
Keluarga belum melengkapi tugasnya dengan sempurna dalam pendidikan anak-anak, sehingga ia menolong anak-anak memberikan pertumbuhan dari segi sosial. Pendidikan sosial ini melibatkan bimbingan terhadap tingkah laku sosial, ekonomi dan politik dalam rangka mengokohkan akidah Islam yang betul dan ajaran-ajaran agamanya yang mendorong kepada produksi, menghargai waktu, jujur, ikhlas dalam perbuatan, adil, kasih sayang, ihsan, mementingkan orang lain, tolong menolong, setia kawan, menjaga kemaslahatan umum, cinta tanah air dan lain-lain lagi bentuk akhlak yang mempunyai nilai sosial.
Di antara dalil-dalil agama yang menjadi dasar pentingnya pendidikan sosial dalam keluarga ialah: “Bertakwalah kamu kepada Allah dan berbuat adillah kepada anak-anakmu” (HR.Muslim). Dan banyak lagi ayat al-Qur’an dan Hadits yang berkaitan dengan pendidikan sosial bagi anak-anak dalam keluarga. Sedangkan di antara metode yang patut digunakan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya dari segi sosial ini menurut Hasan Langgulung (1989) adalah sebagai berikut:
a.       Memberi contoh yang baik kepada anak-anaknya dalam tingkah laku sosial yang sehat berdasar pada prinsip-prinsip dan nilai-nilai agama.
b.      Menjadikan keluarga sebagai tempat yang tercipta di dalamnya hubungan-hubungan sosial yang baik.
c.       Membiasakan anak-anak secara berangsur-angsur berdikari dan memikul tanggungjawab dan membimbingnya jika mereka bersalah dengan lemah lembut.
d.      Menjauhkan mereka dari sifat manja dan berfoya-foya dan jangan menghina dan merendahkan mereka dengan kasar, sebab sifat memanjakan dan kekasaran itu dapat merusak kepribadian anak-anak.
e.       Menolong anak-anaknya menjalin persahabatan dengan kawan-kawannya yang baik-baik, sebab anak  akan ikut terbawa baik jika berkawan dengan orang baik.
f.       Menggalakkan mereka mendapatkan kerja yang dapat menolong mereka berdikari dari segi ekonomi.
g.      Membiasakan mereka hidup sederhana supaya lebih bersedia menghadapi kesulitan hidup sebelum terjadi.
h.      Membiasakan mereka dengan cara-cara Islam dalam makan, minum, duduk, tidur, memberi salam, masuk rumah dan lain-lain lagi yang berkaitan dengan kegiatan hidup.
i.        Membiasakan bersifat adil dalam memecahkan masalah yang terjadi di antara anak-anak   
 
E. Kesimpulan
            Dari pembahasan tentang metode pendidikan keluarga menurut Islam di atas, maka dapat diambil suatu kesimpulan sebagai berikut:
1.      Keluarga dalam Islam memegang peranan penting dalam membentuk pribadi anak, karena keluarga merupakan institusi pertama yang yang secara langsung berinteraksi dengan anak, sehingga apa pun yang terjadi dalam keluarga akan berdampak terhadap anak.
2.      Pendidikan dalam keluarga yang ditanamkan sejak kecil kepada anak-anak sampai dengan dewasa, yang berupa pendidikan jasmani dan kesehatan, pendidikan akal (intelektual), pendidikan psikologi, pendidikan agama, pendidikan akhlak dan pendidikan sosial  sangat besar pengaruhnya dalam pembentukan pribadi anak, karena pendidikan tersebut berlangsung sepanjang masa oleh orang tua kepada anak-anaknya dan disertai dengan rasa kasih sayang, keikhlasan dan tanggungjawab yang penuh dari orang tua kepada anak-anaknya.
3.      Metode penanaman nilai-nilai pendidikan dalam keluarga menurut Islam pada dasarnya mengacu kepada prinsip-prinsip yang ada dalam al-Qur’an dan Hadits. Namun, karena Al-Qur’an dan Hadits tidak memberikan rincian tentang metode tersebut, maka realisainya disesuaikan dengan situasi dan kondisi dan tujuan yang diharapkan diperoleh pendidikan yang diberikannya, sehingga metode tersebut bersifat fleksibel.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran dan Terjemah (1984), Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an Pepartemen Agama RI.  

Al-Syaibany, Omar Mohammad Al-Taomy (1979), Falsafah Pendidikan Islam (terj. Hasan Langgulung), Jakarta: Bulan Bintang.

Abu Ahmadi, dkk (1991),  Ilmu Pendidikan,  Jakarta: Rineka Cipta

Hasan Langgulung (1989), Manusia dan Pendidikan: Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, Jakarta: Pustaka Al-Husna

M.Arifin (1991), Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, Jakarta: Bumi Aksara.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar